Cari Blog Ini

Senin, 25 Juni 2012

Kulkas Baru


Di ruang tamu kami celingak-celinguk (ala anak-anak) mencari keberadaan itu kulkas. Lalu, seorang teman dengan muka antagonis ala anak-anak bertanya, “mana kulkasmu?” Vivin pun menjawab, “Hmm kulkasnya masih disimpan di lemari  kok sama ibuku.



Waktu itu aku masih duduk di kelas 2 SD. Kebiasaan setiap jam istirahat aku dan teman-teman berkumpul di samping sekolah, tepatnya di warung sederhana milik Mbok Mbon begitu kami biasa memanggilnya. “Mbok Mbon” sebenarnya panggilan untuk istri tukang kebun atau penjaga sekolah. Aku sendiri tidak tahu kenapa ibu itu dipanggil Mbok Mbon sedangkan dia sendiri bukan istrinya Tukang Kebun, ah mungkin kebiasaan aja kali ya, di sekolah-sekolah lain biasanya klu suami tukang kebun terus si istri berjualan di sekolah. Begitulah, sehingga terjadi salah kaprah, di sekolahku meskipun penjualnya bukan istri tukang kebun tetap saja dipanggil Mbok Mbon.

Kembali ke cerita aku tadi ya. Suatu hari temanku yang bernama Indri cerita kalau ia punya kulkas baru. Dia menceritakan dengan bangga sekali, maklum aja kami sekolah di desa. Apalagi masa itu, kulkas masih menjadi barang mewah bagi aku dan teman-temanku yang rata-rata ekonomi menengah kebawah. Masa itu, dibandingkan dengan teman-teman lain termasuk aku, Indri memang terlihat lebih bersih, barang-barang miliknya pun serba bagus dan bermerek. Pada saat bersamaan, Vivin seorang teman dari kelas tiga yang juga sering bermain bersama kami datang dan ikut menimbrung. Mendengar Indri punya kulkas baru, ia tak mau kalah. “Aku di rumah juga punya kulkas baru,” begitu ucap Vivin. “Ah, masak? Kapan belinya kemarin aku ke rumahmu ga ada kulkas.” Ucap seorang teman. “Kemarin, beli di Kartasura.” Jawab Vivin. “Nanti pulang sekolah boleh main ke rumahmu nggak, nanti dilihatin kulkasmu yah?” ucap seorang teman yang lain.

Akhirnya, sepulang sekolah aku dan tiga teman lain main ke rumah Vivin. Di ruang tamu kami celingak-celinguk (ala anak-anak) mencari keberadaan itu kulkas. Lalu, seorang teman dengan muka antagonis ala anak-anak bertanya, “mana kulkasmu?” Vivin pun menjawab, “Hmm kulkasnya masih disimpan di lemari  kok sama ibuku. Waktu itu, kami pun percaya begitu saja. Dasar bodoh, mana ada orang nyimpen kulkas di lemari. Hahahhaa.