Cari Blog Ini

Senin, 25 Juni 2012

Cucu Pengusaha ‘Setip’




Ah, emakku ternyata kreatif, lebih tepatnya mungkin KERE-AKTIF, jadi aktif karena tak mampu beliin karet penghapus anaknya, xixixixixixixi. Jadi tahu dah, ternyata emakku penganut falsafah ‘TAK ADA ROTAN AKAR PUN JADI, tak ada setip sandal jepit pun jadi.’



Cerita ini terjadi waktu aku duduk di kelas 2 SD, berawal saat aku kehilangan karet penghapus atau yang dalam bahasa lokal kami disebut setip. Suatu sore emak membimbingku mengerjakan PR matematika. Beberapa kali aku salah menulis angka, aku pun mencari karet penghapusku. Aku cari di tempat pensil, di tas, dan di seluruh saku tambahan tas, tapi tak aku temukan. Singkatnya, karet penghapusku hilang. Entah terjatuh saat masih di ruang kelas, dalam perjalanan pulang, di pinjam teman tapi tak bilang-bilang, atau aku hanya lupa memasukkan kembali ke tas. Emak sempat bersungut-sungut juga, karena ini bukan kali pertama aku kehilangan alat tulis. Emak beranjak pergi sambil mengomel,  meninggalkanku sendiri di meja ruang tamu. Aku memang biasa belajar di ruang tamu, maklum tidak punya meja belajar sendiri waktu itu.

Tak seberapa lama emak sudah kembali di sampingku. Disodorkannya sebuah benda kenyal seukuran ibu jari sambil berkata, “Sementara pakai ini dulu untuk menghapus”. Aku amati baik-baik karet penghapus pemberian emak. Bentuknya unik tidak seperti karet penghapus pada umumnya. Rasa-rasanya kok seperti potongan karet sandal jepit ya, pikirku saat itu. Akupun bilang pada emak, “Kok seperti karet sandal jepit, Mak.” Emak pun tertawa sambil berujar, “memang itu karet sandal jepit, Emak potongkan dari sandal jepitmu yang sudah putus talinya itu.” “Emang bisa untuk menghapus, Mak?” tanyaku polos, yah maklumlah anak-anak. “Bisalah, setip kan dibuat dari karet, jadi karet sandal jepit pun bisa digunakan untuk menghapus tulisan pensilmu, termasuk karet gelang yang biasa digunakan untuk mengikat es lilin itu, bisa digunakan sebagai setip.” Tanpa ba-bi-bu, aku coba menggunakan karet penghapus made in emak itu, sik...isik....isik......eitts....benar juga kata emak nih, karet sandal jepit bisa dipakai untuk menghapus tulisan pensilku, meski tak selunak dan seenak karet penghapus yang dijual di toko. Ah, emakku ternyata kreatif, lebih tepatnya mungkin KERE-AKTIF, jadi aktif karena tak mampu beliin karet penghapus anaknya, xixixixixixixi. Jadi tahu dah, ternyata emakku penganut falsafah ‘TAK ADA ROTAN AKAR PUN JADI, tak ada setip sandal jepit pun jadi.’ Duh, emak aku jadi terenyuh nih ingat dedikasimu dulu. I LOVE YOU FOREVER MAK!!!!

Begitulah, hingga suatu ketika ada teman yang kehilangan karet penghapus di kelasku. Aku pikir inilah saat tepat untuk berbagi ilmu yang sudah emak transfer kepadaku. Aku dekati teman yang kehilangan karet penghapus. Kebetulan waktu itu ada juga beberapa teman yang sedang berkumpul. Saat sudah berada diantara teman-teman, tiba-tiba aku berubah pikiran. Sifat anak-anakku muncul, yaitu sifat keegoan, ingin menonjol dan tak mau kalah dengan yang lain. “Setip-mu hilang, ya?” tanyaku pada Wulan, teman yang kehilangan setip-nya. Wulan hanya mengangguk. “Besok aku bawakan setip ya,” ujarku pada Wulan. “Emang kamu punya setip banyak di rumah?” tanya Wulan. “Iya, aku di rumah masih punya banyak setip,” jawabku. “Aku juga dibawain satu dong,” ucap temanku yang lain, “Aku juga ya, bawain satu,” ucap beberapa teman lainnya. “Oke deh, besok takbawain. Di rumah kakekku kan ada setip banyak,” ucapku ala anak-anak tentunya kala itu. “Kakekmu jualan setip, ya?” tanya seorang teman. “Hmmmm, nggak sih. Kakekku bisa buat setip sendiri kok,” jawabku. “Oh, kakekmu pengusaha setip, ya?” tanya teman yang lain. “Ya, begitulah,” jawabku. Gila! Aku sudah mengaku sebagai cucu pengusaha setip. Padahal setip yang aku maksud adalah setip made in emak, alias potongan dari sandal jepit bekas. Duhh, apa kata teman-teman nanti ya. Uhh salah sendiri ngapain juga harus mengaku cucu pengusaha setip, dasar anak-anak! LOL




Kulkas Baru


Di ruang tamu kami celingak-celinguk (ala anak-anak) mencari keberadaan itu kulkas. Lalu, seorang teman dengan muka antagonis ala anak-anak bertanya, “mana kulkasmu?” Vivin pun menjawab, “Hmm kulkasnya masih disimpan di lemari  kok sama ibuku.



Waktu itu aku masih duduk di kelas 2 SD. Kebiasaan setiap jam istirahat aku dan teman-teman berkumpul di samping sekolah, tepatnya di warung sederhana milik Mbok Mbon begitu kami biasa memanggilnya. “Mbok Mbon” sebenarnya panggilan untuk istri tukang kebun atau penjaga sekolah. Aku sendiri tidak tahu kenapa ibu itu dipanggil Mbok Mbon sedangkan dia sendiri bukan istrinya Tukang Kebun, ah mungkin kebiasaan aja kali ya, di sekolah-sekolah lain biasanya klu suami tukang kebun terus si istri berjualan di sekolah. Begitulah, sehingga terjadi salah kaprah, di sekolahku meskipun penjualnya bukan istri tukang kebun tetap saja dipanggil Mbok Mbon.

Kembali ke cerita aku tadi ya. Suatu hari temanku yang bernama Indri cerita kalau ia punya kulkas baru. Dia menceritakan dengan bangga sekali, maklum aja kami sekolah di desa. Apalagi masa itu, kulkas masih menjadi barang mewah bagi aku dan teman-temanku yang rata-rata ekonomi menengah kebawah. Masa itu, dibandingkan dengan teman-teman lain termasuk aku, Indri memang terlihat lebih bersih, barang-barang miliknya pun serba bagus dan bermerek. Pada saat bersamaan, Vivin seorang teman dari kelas tiga yang juga sering bermain bersama kami datang dan ikut menimbrung. Mendengar Indri punya kulkas baru, ia tak mau kalah. “Aku di rumah juga punya kulkas baru,” begitu ucap Vivin. “Ah, masak? Kapan belinya kemarin aku ke rumahmu ga ada kulkas.” Ucap seorang teman. “Kemarin, beli di Kartasura.” Jawab Vivin. “Nanti pulang sekolah boleh main ke rumahmu nggak, nanti dilihatin kulkasmu yah?” ucap seorang teman yang lain.

Akhirnya, sepulang sekolah aku dan tiga teman lain main ke rumah Vivin. Di ruang tamu kami celingak-celinguk (ala anak-anak) mencari keberadaan itu kulkas. Lalu, seorang teman dengan muka antagonis ala anak-anak bertanya, “mana kulkasmu?” Vivin pun menjawab, “Hmm kulkasnya masih disimpan di lemari  kok sama ibuku. Waktu itu, kami pun percaya begitu saja. Dasar bodoh, mana ada orang nyimpen kulkas di lemari. Hahahhaa.



Senin, 18 Juni 2012

Sedikit Cerita dari E-KTP



Tadi malam, tepatnya Selasa 29 Mei 2012 aku menghadiri undangan rekam iris mata, sidik jari, dan pemotretan untuk pembuatan E-KTP di kantor Kecamatan Colomadu. Rupanya, hari itu memang khusus untuk melayani warga Gajahan, khusunya warga RW 003. 

Seperti yang aku duga, di situ aku akan bertemu dengan tetangga-tetanggaku, termasuk para tetangga yang dulu masih ingusan sekarang sudah jadi anak perawan, cantik-cantik, bahkan sudah ada yang bawa anak kecil. Pemuda-pemuda berbadan tegap yang sedikit-demi sedikit mulai aku ingat namanya, karena sebelum tadi malam, aku masih melihatnya sebagai anak-anak yang masih suka main sepakbola di gang kampung. Aku pun bertemu dengan beberapa ibu yang dulu tidak berkerudung tapi tadi malam tampil berkerudung, jadi pangling semua.  Maklum, karena aku sendiri selama ini tidak berdominisili di kampungku. Sejak SD sampai perguruan tinggi aku tinggal di rumah nenekku. Hingga akhirnya aku bekerja, dan tinggal di luar kota, praktis aku jarang sekali di rumah.


Diantara orang-orang yang aku temui itu, ada satu yang membuatku tergelitik, yaitu seorang perempuan sekitar 60an tahun yang nomor antriannya tepat di depanku. Waktu masih mengantri di luar aku masih biasa saja, walaupun sedikit mikir, ibu ini sudah tua tapi kok aku masih asing ya, hmmm mungkin pendatang baru yang tinggal di kompleks sebelah kampungku. Sampai akhirnya petugas menyebut nama dan alamat lengkapnya, “ Ir. Diah Haryanti Jl Adi Sucipto no 55 Tegal Mulyo Gajahan.”


Huff, aku terperangah, bukan karena pernah mengenal ibu itu sebelumnya. Tapi, kejadian ini menjawab satu pertanyaan yang sudah bertahun-tahun tersimpan dalam memoriku. Yah, dulu semasa aku masih duduk di bangku SD sekitar tahun 90an, saat sekitar Tegalmulyo belum banyak bangunan, di situ ada sebuah rumah bertingkat yang tampak megah dan mewah masa itu. Namun, pintu pagarnya selalu tertutup rapat. Setiap kali aku melintas di depan rumah itu, baik dengan teman-teman atau orang tuaku, aku selalu menyempatkan  menoleh ke rumah itu. Kagum! Pikirku waktu itu, hmmm siapa pemilik rumah itu, pasti orang kaya. Hingga akhirnya, aku pun bertanya pada ibuku, “bu, siapa sih yang punya rumah bercat putih, bertingkat, dan megah di Tegalmulyo itu?” Waktu itu ibuku menjawab, “Bu Diah, rumahnya jelas baguslah, orang dia seorang insinyur kok, kan seorang arsitek.” Begitu jawab ibuku saat itu. Dan, informasi tentang Bu Diah pun cukup sampai di situ. Waktu itu, aku hanya bisa membayangkan sosok Ibu Diah, pasti orang yang tinggi, putih, sexy, dan fashionable, seperti perempuan-perempuan tajir yang ada di sinetron.


Setelah dua dekade berlalu, rasa penasaran itu terjawab. Ir.Diah Haryanti si pemilik rumah mewah itu duduk di sampingku. Tidak tinggi tidak pula cantik, tapi fashionable, perhiasan yang dipakai serba gemerlap, berkulit bersih tapi muka dan tangannya sudah tampak keriput, jalannya pun agak tertatih. Bagaimana dua puluh tahun yang lalu ya? Ahhh!!!!!!!




Selasa, 21 Februari 2012

Pesan Moral di Balik Mimpi


Tapi……………, dadaku terasa sesak sekali, karena sepeda motor dan tasku raib dibawa maling. :’(. Bagaimana tidak bingung, hape tiga-tiganya di tas semua, surat-surat penting semua ada dalam dompet, belum lagi inget kata-kata Pak Gunawan, pegawai SAMSAT yang dulu bantu aku menguruskan duplikat STNK, karena STNK asliku hilang (sudah dua kali, yang pertama karena dicopet waktu di book fair, yang kedua hilang karena tasku dirampas penjambret sepulang kerja: yang ini kisah beneran bro L). “Mbak, ini duplikat kedua, ingat jangan sampai hilang lagi. Kalau sampai hilang, susah mbak nanti untuk buat lagi. Nanti mbak bisa disangka mafia penggandaan STNK!” begitu kata-kata Pak Gunawan yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang terus di telingaku.



Mimpi Aneh dan Tidak Nyata
Akhir-akhir ini aku sering mimpi aneh. Dua hari yang lalu, waktu aku lagi sakit perut, terbangun pagi-pagi. Selesai melaksanakan kewajiban be-a-be balik tidur lagi. Nah, selama tidur jilid II itulah, aku dapat mimpi yang super gendheng. Simak dulu cerita mimpi aku ini, baru kamu tahu bagaimana gendengnya mimpi itu. Mimpi diawali sebuah rencana berlibur ke Bali. (Kalau ini mah, sebenarnya bukan hanya cita-cita di alam mimpi, di dunia nyata pun aku mengidam-idamkannya). Kembali ke cerita mimpi, tempat ngumpul peserta piknik di depan gedung yang entah apa namanya, (lupa, sepertinya memang tidak jelaskan dalam mimpi itu, tapi mirip dengan gedung sekolah, terbawa memori waktu study tour semasa masih sekolah ceritanya nih). Aku buru-buru berangkat dari rumah menuju ke tempat berkumpul, dengan bawa tas besar isi pakaian, makanan ringan de-el-el. Tapi,…..betapa kecewanya aku, karena   ternyata aku datang terlambat, rombongan piknik sudah berangkat. Rasanya, kecewaaaaaaaaaaa banget.  

Badan terasa lemas dan lunglai membawa beban pakaian dan bekal satu kopor ditambah beban kecewa karena tertinggal rombongan piknik. Mau balik ke rumah, tapi maluu, karena sudah terlanjur pamitan, sudah terlanjur bawa bekal banyak, dan sudah terlanjur berjanji mau beliin oleh-oleh topeng barong dan kaos dogger. Beban lebih berat lagi karena sudah terlanjur pamer mau piknik ke Bali, ohh no! Tapi Alhamdulillah bertemu dengan beberapa teman majalah dan teman dari divisi lain. Mereka mengajak jalan-jalan, aku iyakan ajakannya. Aku pikir bisa jadi obat kecewa gagal piknik ke Bali. Maka berngkatlah kami dan teman-teman jalan-jalan dengan tujuan pertama ke pasar untuk belanja. Entah ide siapa, mau ke pasar aja pakai mampir ke salon. Jadilah semua mampir ke salon, termasuk aku. Aku yang sudah ingin potong rambut pun akhirnya potong rambut. Selesai potong rambut, ehh ternyata modelnya ga sesuai dengan yang aku inginkan, rasanya sebel banget. Jadi ga percaya diri, ingin nangis :’(. Teman-teman sudah siap-siap mau melanjutkan perjalanan. Mereka sudah standby di motornya masing-masing, aku jadi buru-buru menuju ke sepeda motor. (aku juga heran tadi bernagkat dari rumah tidak bawa motor, tapi begitu bertemu dengan teman-teman aku bisa bawa motor, ah namanya juga mimpi). Tiba-tiba ingat kalau belum bayar ongkos potong rambut, maka baliklah aku ke capster. “Maaf mbak, tadi saya belum bayar. Saya habis berapa mbak?” tanyaku pada capster. “Dua puluh ribu.” Jawab capster itu. Aku pun balik lagi ke motor, sebab dompet dan tas aku taruh di motor. Tapi……………, dadaku terasa sesak sekali, karena sepeda motor dan tasku raib dibawa maling. :’(. Bagaimana tidak bingung, hape tiga-tiganya di tas semua, surat-surat penting semua ada dalam dompet, belum lagi inget kata-kata Pak Gunawan, pegawai SAMSAT yang dulu bantu aku menguruskan duplikat STNK, karena STNK asliku hilang (sudah dua kali, yang pertama karena dicopet waktu di book fair, yang kedua hilang karena tasku dirampas penjambret sepulang kerja: yang ini kisah beneran bro L). “Mbak, ini duplikat kedua, ingat jangan sampai hilang lagi. Kalau sampai hilang, susah mbak nanti untuk buat lagi. Nanti mbak bisa disangka mafia penggandaan STNK!” begitu kata-kata Pak Gunawan yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang terus di telingaku.

Aku bingung sekali, teman-teman juga bingung tapi tidak memberi solusi. Akhirnya aku minta teman-teman antar aku ke kantor polisi. Tapi anehnya, perjalanannya ke kantor polisi terasa jauhhhhh sekali. Malahan nyasar ke kampus ISI Surakarta, lhoh kok bisa ya? Di teater arena kampus ISI surakarta ada pertunjukan Ramayana. Naluri penulis dan editor Seni Budaya pun mencuat, tuing! Maka, berhentilah kami sejenak untuk menyaksikan pertunjukan Ramayana. Dan, kejadian tidak menyenangkan kembali terjadi, yaitu saat tim artistik pertunjukan memberi efek angin kencang dengan kipas angin raksasa. Wuiiiihhh dinginnya, aku sampai menggigil. Dada juga terasa sesak sekali akibat angin kencang itu. Aku tidak tahan, akhirnya mengajak teman-teman pulang. Sampai di rumah haus mau minum. Ambil gelas lalu buka kran dispenser, krucuk…krucuk…krucuk! Gubrak….kaget banget. Ga kaget gimana, air dispenserku kotor banget, ga layak buat diminum. Padahal baru diganti dengan air mineral baru. Aku amati, dan….hah! di dalam dispenser ada ikan lelenya. Kesel sekali jiwaku, mimpi yang sangat melelahkan. Akhirnya, air dalam dispenser aku buang! L. Badan capek mau istirahat, eh malahan ingat , kalau belum jadi ke kantor polisi tadi. Waduh!!!!! UNTUNG KEBANGUN, ALARM HANDPHONE BUNYI, sudah pukul 06.00 pagi. Aku bangun, buka pintu, langsung lihat ke garasi. Alhamdulilah sepeda motorku masih. J


Memaknai Mimpi
Pada suatu kesempatan seorang teman perempuanku berujar “Tadi malam aku mimpi digigit ular lho.” Saat mengucapkan kata-kata itu, matanya berbinar dan senyumnya mengembang. Tidak bisa dipungkiri, ia tampak senang dan bahagia. Hal itu disebabkan, ia juga masyarakat kita pada umumnya masih percaya bahwa mimpi digigit ular menjadi pertanda seorang perempuan akan bertemu dengan jodoh atau akan dilamar.   Pada kesempatan berbeda seorang temanku berujar “Semalam aku bermimpi gigiku tanggal, aku jadi kepikiran terus nih.” Berbeda dengan teman yang pertama tadi, temanku ini tampak murung dan cemas. Hal ini disebabkan, selama ini mimpi gigi tanggal dipercaya sebagai pertanda buruk, yaitu aka nada anggota keluarga yang meninggal dunia. Kita tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa masih banyak masyarakat kita yang mempercayai mimpi sebagai pertanda/isyarat. Itu pula alasan, mengapa beredar buku-buku primbon yang banyak mengulas mengenai tafsir mimpi.
Selama ini, pertanda/isyarat mimpi dibedakan menjadi dua, yaitu mimpi sebagai pertanda baik dan mimpi sebagai pertanda buruk. Salah satu contoh mimpi yang dianggap sebagai pertanda baik telah disebutkan di atas, yaitu mimpi digigit ular. Mimpi pertanda baik lainnya yaitu menggendong bayi, mendapat kotoran manusia, dan membopong mayat. Ketiga mimpi tersebut dipercaya sebagai pertanda akan mendapat keuntungan yang bersifat materi. Selain mimpi gigi tanggal, masih banyak  mimpi-mimpi yang dianggap sebagai pertanda buruk, misalnya mimpi menikah, buang hajat, dan tenggelam atau terkena air bah. Mimpi menikah dipercaya sebagai pertanda akan mengalami sakit keras, mungkin sampai meninggal dunia. Mimpi buang hajat dianggap sebagai pertanda akan mengalami kerugian yang bersifat materi, misalnya kehilangan barang berharga yang dimiliki. Mimpi tenggelam atau terkena air bah diartikan sebagai pertanda buruk juga, yaitu akan mendapat kemalangan atau musibah besar.
Sigmund Freud, kamu pasti tidak asing lagi dengan tokoh yang satu ini. Beliau adalah tokoh psikologi yang banyak menelurkan teori-teori dalam dunia psikologi. Salah satu teorinya yang terkenal yaitu, teori tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Freud melakukan sebuah kajian tentang mimpi. Freud menjadikan mimpi sebagai salah satu metode untuk mengungkap penyebab gangguan kejiwaan pada diri kliennya. Metode ini kemudian terkenal dengan sebutan ANALISIS MIMPI. Mimpi-mimpi yang dialami kliennya, dijadikan acuan Freud untuk mendiagnosa, menganalisa, dan kemudian menyimpulkan: APA YANG SEBENARNYA DIALAMI OLEH KLIENNYA ITU?
Di sini aku tidak akan membahas panjang lebar tentang ANALISIS MIMPI, juga bagaimana cara Freud melakukan terapi terhadap kliennya yang mengalami gangguan neurosis (kejiwaan) melalui analisis mimpinya. Aku juga tidak akan membahas tafsir-tafsir mimpi yang berkembang dalam masyarakat kita, karena kalau dibahas tentu tidak cukup 5 halaman A4.  Aku akan berusaha mengajakmu untuk memaknai mimpi dengan cara lain, yaitu dengan menganalisis pesan moral sebuah mimpi.


Analisis Pesan Moral Sebuah Mimpi
Menganalisis pesan moral sebuah mimpi? Kenapa tidak! Selama ini, kita mungkin tidak pernah berpikir ke sana. Tapi aku yakin, Tuhan memiliki pesan moral yang hendak disampaikan kepada kita, dan pesan moral itu disampaikan kepada kita melalui mimpi. Kita tahu, saat ini pemerintah sedang getol-getolnya menggalakkan program pendidikan karakter bangsa. Program pembangunan karakter melalui sistem pendidikan nasional yang digalakkan ini merupakan bentuk keprihatinan pemerintah atas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang masih saja merajalela, meski Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah bekerja keras dan perangkat undang-undang antikorupsi sudah dibuat.
Demikian juga meningkatnya intensitas tawuran antarwarga, antarpelajar, serta kekerasan dalam rumah tangga hingga kekerasan terhadap anak, semakin meneguhkan niat pemerintah untuk memulihkan karakter bangsa melalui program pendidikan karakter bangsa.

PEMERINTAH TERLAMBAT, PEMERINTAH KETINGGALAN ZAMAN. Ya, rasanya pemerintah terlambat mendapat ide tentang pendidikan karakter ini. Karena, sesungguhnya sejak manusia diciptakan di bumi Tuhan sudah menyertakan pendidikan karakter itu. Di mana butir-butir pendidikan karakter Tuhan itu? Di dalam kitab suci yang diturunkan, Al-Qur’an untuk umat Islam. Tuntunan pendidikan karakter bagi umat muslim selain dituangkan dalam Al-Qur’an juga dituangkan dalam Al-Hadist dan As-Sunnah.  Bagi penganut agama lain, seperti Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha tentu juga dituangkan dalam kitab-kitab suci mereka. Dalam ajaran Konghucu juga ada ajaran tentang etika (baik dan buruk) yang tidak lain mengarahkan umatnya untuk berperilaku baik kepada sesama manusia.
Tuhan memberikan pendidikan karakter melalui mimpi, benarkah? Benar atau tidak hal ini sangat tergantung bagaimana kita melihatnya. Namun, aku melihatnya sebagai kebenaran. Hal inilah yang mengilhamiku untuk membuat tulisan ini. SAYA YAKIN DAN SAYA PERCAYA bahwa, selain menuangkan pesan-pesan moral-Nya dalam kitab suci, Tuhan juga memberikan pesan moral dalam bentuk lain, yaitu MIMPI. Sebagai contoh, mari kita lihat lagi paparan tentang MIMPI ANEH DAN TIDAK NYATA di atas. Mimpi yang aku alami itu sekilas memang ruwet dan melelahka. Namun, dibalik itu, ketika aku berusaha melihatnya dari sisi yang positif ternyata banyak sekali pesan moral yang dapat dipetik. Pesan moral yang berhasil saya analisa dari mimpi tersebut sebagai berikut:

  • Disiplin waktu, selalu datang tepat waktu.
  • Jangan suka mengumbar janji dan suka pamer.
  •  Hati-hati sebelum memutuskan suatu hal agar tidak kecewa/menyesal di kemudian  hari.
  •  Selalu waspada dan tidak teledor menaruh dan menyimpan barang-barang berharga.
  • Senantiasa menjaga kebersihan tempat minum dan perlengkapannya.


Mimpi apa kamu semalam? Coba ingat-ingat, lalu analisislah, kira-kira pesan moral apa yang ingin disampaikan Tuhan kepadamu. Tuliskan dalam diary-mu “PESAN MORAL TUHAN MALAM INI BLA…BLA…BLA…”. Lakukan juga untuk malam-malam selanjutnya.
Jika malam-malam sebelumnya, setiap terbangun dari tidur kamu termenung di atas ranjang, mengingat-ingat mimpi yang baru saja kamu alami sambil berusaha menafsirkan maknanya, maka mulai sekarang ambil diary dan pulpenmu. Lalu, duduk dan analisislah pesan moral apa yang hendak disampaikan Tuhan melalui mimpi itu. SELAMAT MENCOBA KAWAN!