Cari Blog Ini

Sabtu, 26 Februari 2011

Sajak-Sajak di Tengah Badai

Badai masalah bisa menimpa siapa saja. Ia bisa datang kapan pun dan di manapun. Badai masalah tidak mengenal usia, jenis kelamin, maupun status seseorang. Ia tidak peduli kamu siap atau tidak, ia tidak peduli kamu akan kacau balau atau porak-poranda. Yang pasti, badai selalu meninggalkan kerusakan, juga duka lara. 




"Berkali badai menerpaku, berkali badai menyesakkan dadaku, berkali badai memporak-porandakan sendi-sendi kehidupanku. Aku tak pernah lupa, karena aku selalu mencatatnya. Rasa sesak itu menjelma kata, sendi-sendi yang luluh lantah aku punguti satu demi satu puingnya, aku rangkai menjadi sajak. Inilah sajak-sajak itu: Sajak-Sajak di Tengah Badai". 



  Episode Gelap

Pada pagi aku menanti siang
pada siang kunantikan senja
pada senja kunantikan malam
namun malam ketakutan

Entah mengapa,
bulan enggan untuk datang
sehingga gelap
hanya gelap
gelap-gelap

Entah timur entah barat
entah selatan
entah…..
aku tak tahu lagi arah

Saat mata kubuka selebar-lebarnya
saat mata kupejamkan sepejam-pejamnya
tak ada bedanya
mata kubuka gelap
mata melotot gelap
mata menyipit gelap
semua gelap

Jiwa bingung mencari terang
terus terang
gelap terus
terus gelap
mata gelap
mata-mata gelap
hanya gelap
kata-kata gelap
kalimat gelap
inspirasi gelap
puisi gelap
ini episode gelap
 
Studio Keramik, 20 Juni 2002

 
Puisi: Sakit Jiwa

Mata telah lelah memejam
kesiangan….aku coba bangkit

Di mana diriku? kebingungan
tak ada jawaban, hanya aku merasa asing dengan segala ini
di mana ini?

Mengapa segala itu menjauh?
dan, hanya segala ini di sini
tak juga diriku, bagaimana bisa aku
berdansa mesra, sementara yang lain hanyut dalam mimpinya
aku gila?

Benciku pada diri sendiri
yang sudah terlanjur jauh berlari
meninggalkan jatidiri, bahkan harga diri
entah sudah berapa mil aku berlari
sebab di sini, aku tak lagi melihat diriku sendiri
jatidiri bahkan harga diri

Ia telah jauh menjauh, atau bahkan ia telah hilang
musnah tak berbekas
bersama angin yang menderanya pergi

Aku menangis
tak ada lagi kain
tak ada lagi benang
aku telanjang benar

Jiwa menelanjangiku pada malam
adalah jiwaku
jiwa yang kehilangan ruh dalam mimpi indahnya
aku: sakit jiwa

Kartasura, 30 Desember 2002
 

Blora, Aku Teringat Padamu

Blora, aku teringat padamu
pagi buta, jalanan kota….jati tua
di sisi jalanmu yang sunyi, pagi itu aku Blora
melintas tersenyum, namun…..
air mata tercecer di sepanjang perjalanan pulangku
masa lalu……..

Dan, pagi ini aku Blora
dingin menggigil di tepian jalanku sendiri
sebab, diantara kita tak ada lagi kata
hanya entah mengapa, tiba-tiba…..
Blora….Blora….aku teringat padamu Blora

Dimana seorang residivis pernah bersembunyi
dalam hati seorang gadis
bukan melukis, tapi mengukir
dengan pisaunya yang tajam
ternyata bukan pula ukiran, tapi tangisan
tangisan seorang gadis yang kesakitan
lalu, katanya: inilah karya seni
love is hurt, hurt is art

Kartasura, Pebruari 2003
 

 Puisi: Kancil, Buaya, dan Singa

Ketika kancil-kancil berlari ke hutan, kau lari padaku
ketika buaya-buaya menuju muara, kau menuju padaku
aku tidak tahu siapa dirimu, namun padaku tlah melekat sebagian dirimu

Ketika kancil-kancil berlari ke hutan, kau lari padaku
ketika buaya-buaya menuju muara, kau menuju padaku
siapa dirimu? diri yang terkadang kancil, diri yang terkadang buaya

Dan,......dan aku kenapa tak pernah bisa menaklukkan singa?
sedangkan segala daya dan upaya tak ada lagi bersisa
I love singa!

seperti lumpur di tepi rawa, selimutnya buaya
buaya belang buaya sayang,
ini kubawakan kisahmu dalam puisi 
kisah: seekor kancil yang buaya, seekor buaya yang kancil
while the lion still the king, I love singa

Klaten, Maret 2006


Mencari Taman I

Tak pernah terpikir
jalan ini begitu panjang
mulus dan lebar hanya di awal
semakin jauh langkah, semakin terjal
semakin lama berjalan, semakin sempit
ragaku lelah,

Pikiran tiba-tiba menikung,
mencari titik awal, saat kaki mulai melangkah
saat itu, aku memang menulis di atas tanah:
aku hendak kemana? Hendak mencari apa?
: hendak ke taman mencari bunga, dan berharap melihat kupu-kupu 

Terasa yakin sekali,
saat jari menunjuk sebuah papan bergambar panah bertulis ‘taman’
itulah pilihan,

Keindahan taman yang terbayang, membuat lupa
lupa mengindahkan angka yang tertera
angka yang semestinya membuatku berpikir,
: sanggupkah menempuh jalan menuju taman yang panjang dan berliku?

Terjebak,
di tengah jalanan lengang
gulita segala ruang,
sempit dan terjal, belukar dua tepinya

Pagi habis
siang berlalu
senja tak menyisakan apa-apa
dan malam, kenapa tak segera berlalu
gundah menyeruak,

Di mana taman itu?


 Klaten, 27 Januari 2011









 

2 komentar:

  1. hmmm, ikut larut dalam sebuah kisah yang puitis. Good job mb, lam kenal. Feza

    BalasHapus
  2. makasih Feza, lam kenal balik ya.

    BalasHapus

Silakan Berkomentar!