Cari Blog Ini

Rabu, 10 November 2010

Antologi Puisi: Yang Tiba-Tiba, Yang Ala Kadarnya

Tiga hari yang lalu, aku bersih-bersih laci, lemari,  merapikan buku-buku lama, juga beberapa foto kopian bahan referensi. Di antara buku yang aku bersihkan, juga beberapa foto kopian bahan referensi itu, kutemukan beberapa coretan. Coretan spontan tersebut diantaranya berupa puisi, juga kalimat-kalimat spontan, yang terasa aneh, saat aku baca sekarang. Puisi dan coretan-coretan spontan itu pun membuatku flashback ke masa lalu, aku coba mengingat-ingat, apa yang  pernah aku alami dulu. Inilah beberapa diantara puisi coretan spontan itu.


"See My Canoe"

It was moves quickly
my canoe moves on silenly
it was moves with out sail
it was moved, though . . .I am not rowing it

the time has shown the answer
and now, everybody knows
my life never depend on the wind, 
neither on the sail
my life is not on your hand, 
neither on your aversion to me

my life, is on my belief

see my canoe
it was moves faster than yours


Klaten, July 16 2009 



"No tittle (kira-kira judul yang tepat apa yach?"

Dan, hari ini . . .
matahari begitu cerah bersinar 
kilaunya mampu menerpa muka
hingga . . . .
aku seolah berpijar

hari ini aku kembali dibangkitkan
aku kembali hidup
setelah sekian lama, aku mati

Akhirnya, 
hari ini aku kembali bisa
menatap matahari
menikmati sepoian lembut sang bayu
kembali kedengar kicauan burung
kembali kunikmati gemerincing suara air, terjatuh dari pancuran

Duniaku kembali . .. .
yach, duniaku tlah kembali 
yach, duniaku . . .
aku telah menyambutmu . ... . .

Kartasura, 22 november' 99 


"Jangan Kau Tanya" 

Seiring langkahku yang terseok,
bersama diriku yang telah bobrok
aku terus berjalan . . . .

jalanan sempit, belukar dua tepinya
kutempuh jua

jangan kau bilang aku gila!
jangan kamu  bilang aku buta
aku tahu semua, tapi . . . .

aku kepalang, 
tanggung orang bilang 

sampai kapan? jangan kau tanya
sebab sudah pasti aku tak mampu menjawabnya
mungkin sampai nanti
sampai aku mati
mati dengan duri-duri tajam, menusuk kaki

Kartasura, November 1999

 "No tittle" ( judul yang cocok apa yach? kasih ide dong)

Di mana ini?
langkahku tiba-tiba tertahan, dan
aku tertegun
seperti berpijak di atas bumi baru
bingung, linglung . . . .

langit di atasku tidak lagi tiga warna
yang selalu biru, kelabu, atau gelap pekat membeku

cakrawala menyentuh ke sudut kalbu, yang selama ini ungu
terkoyak oleh merah dan biru kegundahan

langitku, kini penuh warna-warna merona
lembayung  anggun, setia menghias setiap jagaku, 
juga setiap tidurku

bumi yang selama ini bisu, kini banyak bercerita kepadaku
tentang makna kesabaran, kesetiaan, juga keikhlasan
pun angin, . . . .(heheheheheheh . . . . . .ga da lanjutannya, habis itu kuliah bubar apa ya? soalnya ini aku temukan di buku catatan kuliah sih) 

(tidak dituliskan tanggal & tahun pembuatan, tapi ini ditemukan di catatan kuliah, paling dekat dengan catatan mata kuliah Manajemen Pemasaran yang tertanggal 7 November 2006)


"Bumi Telah Jenuh" 

 Bumi Telah Jenuh menjadi pijakan
aku harus mendaki gunung atau berlari ke hutan
tertatih dan kembali pulang
dengan tongkat, kutulisi jalanan membentang
syair asmara, aksara bermakna
selamat tinggal . . . . .

Klaten, Agustus 2004


"Semenjak Itu" 

Engkau mengajari aku, 
bagaimana menyembunyikan hati di balik matahari 
semenjak itu, aku tak lagi seperti dulu 
Gugur bersemi, gugur dan tumbuh kembali
Aku merasakan seperti saat pagi
perlahan siang lalu senja, malam dan pagi lagi

Aku tidak lagi seperti dulu
saat kemarau, saat gersang
saat bunga tak mau mengembang
aku telanjang benar
di jalanan atau pematang
di hutan atau lautan

semenjak itu, aku selalu bertanya:
ini jalan ke surga?neraka? atau kemana?

Klaten, Agustus 2004


"Seperti Gersang"

Seperti gersang, aku juga tandus
hasrat pun melayang pada garing pematang
hijauku meluntur, seluntur kain yang melilit tubuhku
seperti aku lupa akan simpul pada ujung-ujung kainku
aku lepasi satu-satu
sehingga, engkau melihat utuh setiap lekuk tubuhku

seperti masih memejam
namun aku telanjang benar
kini tinggal malu dan terlanjur, tinggal cinta dan hancur


Solo, 27 April 2003



"Ke Kota Pelaminan"

Kangmas,
Berapa lama lagi aku harus berjalan, tanpa sandal
di bawah terik surya kurangajar?

aku kelelahan, kangmas....
entah sudah berapa banyak nama jalan tlah kuhafal
namun belum juga kutemui,
jalan menuju kota pelaminan

lalu, apa mungkin. jalan ke sana adalah jalanan tanpa nama
kangmas, . . . .
benarkah di kota itu telah kau dirikan sebuah istana
dengan candi sebagai prasasti cinta abadi
satu lagi kangmas,
adakah kau pahat pada stupa candi itu, namaku?
kangmas, .....
ini aku tlah berada di jalan tidak tahu
jalanan sempit serupa perspektif
terus maju terus menyempit

dan, kini aku berdiri tepat di depan titik
tinggal satu langkah, tinggal bayang dan hilang
pulang jiwaku, bukan kamu jodohku

Klaten, 9 maret 2006



 Tanpa judul 

Bumi telah jenuh jadi pijakan, 
aku harus mendaki gunung atau berlari ke hutan
atau harus kurenangi sebuah parit, sedang aku takpunya rakit 
 
 Akhir juli, 2004


(tanpa judul) 

Uga sacuil kapang
kang mung kandeg jroning ati
durung muspro guritan kebak rasa
tan dak eling welingmu: mega ora bakal salawawe ngadang sumunare srengenge!

tanpa keterangan tanggal, bulan, dan tahun 










 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Berkomentar!